Jumat, 21 Oktober 2022

Koneksi Antar Materi

Modul 1.4

Budaya Positif

 

Oleh Farida Haryati

CGP Angkatan 6 Kota Jambi

Berdasarkan  tujuan pendidikan yang  dijelaskan  oleh Ki Hajar Dewantara yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Maka, pendidik hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak. Dalam proses "menuntun/membimbing", anak diberi kebebasan dan pendidik sebagai 'pamong' dalam memberi tuntunan dan arahan harus berpedoman pada nilai-nilai pengajaran, agar anak didik tidak kehilangan arah dan akan membahayakan dirinya. Seorang pendidik akan memberikan 'tuntunan' agar anak didik dapat menemukan kemerdekaan dan kebebasannya dalam proses pembelajaran sehingga dengan memperbaiki lakunya, dapat menumbuhkan dan mengembangkan karakter positif sehingga menjadi budaya  positif di sekolah. 

Filosofis pendidikan KHD merupakan pondasi atau acuan yang harus dipahami dan dikuatkan oleh seluruh pendidik agar tujuan pendidikan mewujudkan profil pelajar Pancasila bisa tercapai. Sesuai dengan apa yang sudah dipelajari pada modul 1.1, bahwa anak didik adalah makhluk yang unik, biarkan mereka berkembang sesuai dengan kodrat alam dan zamannya.

Untuk itu seorang pendidik harus memiliki peran dan nilai-nilai yang dikembangkan sehingga dapat membimbing anak didik untuk berproses menuju kebaikan dan mereka mampu mengembangkan kemampuan yang dimiliki sesuai dengan minat, bakat, kodrat alam, dan zamannya. Adapun nilai-nilai yang perlu ditingkatkan dan diwujudkan oleh pendidik, yaitu berpihak pada anak didik, mandiri, kolaboratif, inovatif, dan reflektif. Hal ini sudah kita pelajari pada modul 1.2 tentang nilai-nilai dan peran guru penggerak.

Berkaitan dengan hal tersebut, pendidik harus bisa merumuskan visi sekolahnya, kekuatan apa yang dapat dijadikan visi sekolah atau kelemahan apa yang bisa ditingkatkan agar menjadi visi sekolah. Mengenai visi, pendidik  perlu merumuskan sesuai dengan kondisi sekolah, baik kondisi siswanya, sarana dan prasana, atau hal lain yang dapat dijadikan acuan, seperti budaya positif yang sudah diterapkan di sekolah tersebut. Pada pembelajaran modul 1.3 hal ini sudah di kupas tuntas, tinggal bagaimana seorang pendidik dapat merumuskan visi tentunya berdasarkan Profil Pelajar Pancasila sesuai dengan impian yang diinginkannya.

Berbicara tentang budaya positif yang telah dipelajari pada modul 1.4, ada banyak hal yang mengubah  paradigma saya sebagai pendidik. Bahwasanya setiap manusia tidak bisa dikontrol oleh orang lain, hanya kita sendiri yang bisa mengontrol diri kita untuk mencapai tujuan mulia berdasarkan nilai-nilai yang dihargai karena setiap manusia memiliki kebutuhan dasarnya masing-masing yang tidak akan sama dengan yang lainnya, seperti kasih sayang, rasa diterima, penguasaan, kesenangan, dan kebebasan.

Setiap manusia melakukan sesuatu atau melakukan perilaku tertentu pasti memiliki tujuan. Anak didik juga demikian, apabila mereka diberikan hukuman atau untuk mendapatkan penghargaan/hadiah, maka anak didik akan melakukannya hanya dalam batas waktu tertentu saja, karena mereka termotivasi secara eksternal. Lain halnya, apabila anak didik diberikan nilai-nilai kebajikan sehingga menjadi keyakinan mereka dan motivasinya secara instrinsik, maka mereka menyadari kesalahannya dan tidak akan mengulangi lagi.

Untuk itu seorang pendidik perlu mengetahui posisi kontrol yang baik dalam meneyelesaikan permasalahan atau kesalahan dari anak didik. Sebagai pendidik terkadang berposisi sebagai kontrol penghukum dan pembuat merasa bersalah. Dengan mempelajari budaya positif ini, sekarang perlahan-lahan berposisi sebagai teman dan pemantau, dan berusaha untuk menjadi posisi kontrol yang tertinggi, yaitu sebagai manajer dengan menerapkan segitiga restitusi terhadap anak didik yang melakukan kesalahan atau pelanggaran peraturan sekolah, agar mereka tidak merasa bersalah, dapat menemukan sendiri solusinya, dan kembali komunitasnya dengan menerapkan keyakinan yang diyakininya.

Kemudian untuk menumbuhkan budaya positif di kelas atau di sekolah, sebaiknya menciptakan program kebajikan, pembentukan keyakinan kelas/sekolah. Melalui peraturan dan nilai kebajikan yang dituju akan mempermudah anak didik untuk melaksanakannya. Peraturan sebaiknya yang biasa ditemukan di komunitas kelas/sekolah. Seperti kembalikan barang ke tempatnya, nilai kebajikan yang dituju adalah rasa tanggung jawab, bergantian atau menunggu giliran nilai kebaikan yang dituju adalah menghormati orang lain dan bersabar, dll.

Tadi siang telah menyelesaikan permasalahan atau kesalahan yang dilakukan oleh anak didik, yaitu mengerjakan PR mata pelajaran seni budaya pada saat jam pelajaran bahasa Indonesia. Akhirnya, sepulang sekolah, anak didik tersebut dipanggil ke ruangan saya menanyakan perihal tersebut. Anak didik diminta untuk bercerita tentang kaselahannya, kemudian ditanya apakah yang dilakukan itu salah atau benar? Akhirnya, anak didik meminta maaf, tetapi maaf saja belum cukup, karena setiap manusia bisa saja berbuat salah, hal itu adalah manusiawi. Kemudian anak didik ditanya tentang usul atau sarannya untuk perbaikan kesalahannya. Akhirnya, anak didik mengemukakan usul dan sarannya dan ucapan terima kasih dari pendidik karena anak didiknya sudah berkomintmen dan menyakini kesepakatan yang sudah dilakukannya. Setelah melakukan hal tersebut ada kebahagian tersendiri, secara tidak langsung saya sudah mencoba untuk menerapkan segitiga restitusi, walaupun belum sempurna.

Terkait dengan pengalaman tersebut ada hal baik yang sudah dilakukan, yaitu sudah mulai menerapkan segitiga restitusi. Ada beberapa hal lagi yang perlu dipahami dan dipelajari, yaitu tahapan yang benar dalam melakukan segitiga restitusi. Semoga ilmu yang disampaikan fasilitator dan instruktur menambah khasanah tentang penerapan restitusi.

Seperti yang sudah disampaikan di atas, sebagai pendidik saya cenderung menggunakan empat posisi kontrol, pada umumnya tergantung dari tingkat kesalahan yang dilakukan oleh anak didik. Adapun posisi kontrol tersebut adalah sebagai penghukum, pembuat merasa bersalah, teman, dan pemantau. Perasaan saat itu biasa saja karena kita berpedoman pada tata tertib sekolah bukan pada keyakinan yang disepakati oleh anak didik. Setelah mempelajari modul ini, perlahan-lahan mulai menggunakan posisi kontrol sebagai manajer, tentunya dengan menggunakan posisi ini kita menjadi nyaman karena tidak menyakiti anak didik, baik secara psikis atau fisik. Perbedaannya cukup signifikan, dimana segitiga restitusi akan mengembalikan anak didik ke komunitasnya sesuai dengan yang mereka yakini.

Sebelum mempelajari modul ini, belum pernah melaksanakan segitiga restitusi dalam menangani permasalahan anak didik. Dengan mempelajari modul ini banyak hal tentang konsep-konsep budaya positif yang diketahui, teori motivasi, hukuman, dan penghargaan, kebutuhan dasar manusia, Restitusi dengan lima posisi kontrolnya, segitiga restitusi, dan keyakinan kelas. Konsep-konsep tersebut menjadi dasar atau pijakan untuk menerapkan budaya positif di sekolah.

 


Kamis, 08 September 2022

Kesimpulan dan Refleksi Filosofi KHD

Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1

             Saya percaya bahwa peserta didik memiliki kemampuan bernalar yang hampir sama dan punya keinginan belajar yang sama juga, maka dalam setiap proses pembelajaran, saya selalu menuntut mereka semua untuk mampu memahami dan dapat mengerjakan tugas yang diberikan. Dalam proses pembelajaran, saya cenderung lebih banyak atau dominan berperan di depan kelas dibandingkan peserta didik bahkan saya terkadang tidak dapat memperhatikan peserta didik yang memiliki masalah dalam pembelajaran atau tidak fokus dalam belajar karena kendala interen maupun kendala eksteren. Proses pembelajaran masih banyak dilakukan di dalam kelas dan untuk mencapai tujuan pembelajaran masih bersifat klasikal. Dalam arti kata, saya lebih banyak menuntut peserta didik untuk melaksanakan apa yang saya inginkan dalam proses pembelajaran.

             Ternyata apa yang saya lakukan dalam proses pembelajaran selama ini, belum mencerminkan pemikiran KHD yang sesungguhnya. Setelah mempelajari modul ini pemikiran atau perilaku saya mulai berubah tentang peserta didik, ternyata mereka adalah makhluk yang unik, memiliki minat dan bakat, kemampuan dalam menyerap pembelajaran, gaya belajar yang berbeda-beda, kemudian mereka juga berasal dari lingkungan berinteksi yang beragam pula.Dalam arti kata peserta didik berasal dari kodrat alam, kodrat zaman, dan kodrat tanah air yang berbeda-beda. Sebagai guru, saya harus menuntun atau mengarahkan peserta didik dalam proses pembelajaran agar mereka dapat  mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Saya harus memperhatikan peserta didik berdasarkan kodratnya masing-masing dan dalam pembelajaran peserta didik harus banyak berperan dibandingkan gurunya.

             Kemudian saya juga lebih memahami tentang semboyan pendidikan KHD, yaitu:

1.      Ing Ngarso Sung Tulodo (di depan selalu memberi contoh, panutan, dan teladan)

Semboyan ini bermakna bahwa pendidik harus memberi contoh, panutan, dan teladan yang baik dalam berkata, bersikap, dan bertindak, baik dalam pembelajaran maupun dalam lingkungan masyarakat. Hal ini, untuk mengupayakan bimbingan kepada peserta didik agar mereka melaksanakannya dalam pembelajaran dan kelak menjadi pemimpin yang dapat dijadikan teladan yang baik.

 2.      Ing Madyo Mangun Karso (di tengan harus memotivasi, membangun kekuatan untuk berkarya)

Semboyan ini bermakna bahwa pendidik harus mampu memotivasi dan membangun kekuatan yang dimiliki peserta didik untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya. Pendidik juga dapat menyesuaikan teknik, strategi, dan metode pembelajaran yang beragam untuk memotivasi peserta didik dalam proses pembelajaran. Pendidik juga harus menumbuhkan semangat peserta didik untuk menghasilkan karya yang bermanfaat.

 3.      Tut Wuri Handayani (di belakang memberikan dorongan atau dukungan)

Semboyan ini memiliki makna bahwa pendidik harus memberikan arahan dan tuntunan kepada peserta didik untuk belajar dengan baik sesuai dengan bakat dan minatnya sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

             Proses pembelajaran yang akan saya terapkan cenderung berfokus pada peserta didik, perlu mengetahui lebih awal kemampuan, bakat dan minat belajar mereka agar proses pembelajaran dapat berjalan seperti yang diharapkan. Kegiatan pembelajaran akan disesuaikan dengan materi ajar dan tempat pelaksanaannya, agar peserta didik dapat melaksanakan secara nyata sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai 

Senin, 04 Juli 2022

Menguak Dapur Penerbit Mayor


Alhamdulillah, malam ini masuk pertemuan ke-20, BM gelombang 25-26, dengan tema "Menguak Dapur Penerbit Mayor." Moderator yang memandu kegiatan ini adalah Ibu Rosminiyati. Narasumber yang akan membersamai anggota BM malam ini adalah Bapak Edi S. Mulyanta, S.Si., M.T. Lahir di Yogyakarta 24 Mei 1969. Beliau menjabat Manager Penerbitan Andi Publisher. Weblog https://wwwpbuandi.com   http://bukudigital.my.id atau http://ebukune.my.id.

Dunia penerbitan yang saat ini di bawah IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) menjadi was-was dan memandang cukup berat tantangan ke depan dunia cetak dan produksi buku. Atmosfir dunia penerbitan perlahan-lahan akan berubah, karena posisi penulis menjadi semakin strategis dalam industri penerbitan. hal tersebut membuat dunia penerbitan bergegas untuk mengubah haluan visi misi mereka ke arah yang lebih up to date, menyongsong perkembangan teknologi yang lebih cepat dibandingkan perkembangan dunia bisnis penerbitan secara umum.

Tahun 2020-2022 merupakan masa paceklik bagi industri penerbitan, akan tetapi berbeda dengan dunia penulisan yang justru marak-maraknya. Hal ini mungkin karena aktifitas kita dibatasi, sehingga banyak yang memberikan kesempatan untuk bekerja dari rumah (WFH). Produksi buku reguler sempat terhenti, sehingga banyak penulis yang mempertanyakan masa depan penerbitan di Indonesia secara umum.

Tidak semua tema buku dapat digantikan oleh digital, hal inilah yang memberikan harapan baru penerbit untuk masih tetap mempertahankan lini bisnis bukunya. Data-data pemasaran tidak pernah bohong, bahwa beberapa buku dengan tema khas ternyata masih sangat baik di pasar. Di dalam dunia star up dikenal dengan strategi bakar uang, para penerbit masih mencoba untuk melakukan beberapa penelitian tentang tema yang masih tetap baik di pasar.

Tema yang menjadi primadona ke depan adalah berkaitan dengan kurikulum baru, yaitu kurikulum merdeka, peluang untuk terbit cukup menarik dengan tema kurikulum yang baru.Tema buku yang menjadi andalan toko buku saat ini adalah tema buku nonteks, seperti buku anak, buku motivasi, buku agama, buku fiksi, hingga buku masak yang masih masuk 10 besar data buku terlaris di setiap toko buku di Indonesia.

Penerbit Mayor mempunyai idealisme masing-masing, sehingga perlu diperhitungkan baik-baik, jika mengusulkan usulan buku ke penerbit tersebut. Yang menjadi permasalahan klise di dunia penerbitan adalah masalah modal beserta pembiayaan produksi buku yang cukup besar nilainya dalam sebah proyek terbitan satu judul buku. 

Geger ISBNpun menjadikan permasalahan literasi di Indonesia menjadi sorotan dunia. Begitu besar semangat untuk menulis di Indonesia menjadikan nomor ISBN-pun tidak kuasa menerima energinya. Ternyata ada anomali yang tidak wajar terjadi didunia perbukuan di Indonesia. Wadah ISBN yang biasanya tersedia dengan mudah untuk mendapatkannya. Saat ini menjadi nomor mewah yang cukup sulit untuk mendapatkannya, mengapa demikian, hal ini dipicu keinginan menulis buku  hanya untuk mengejar angka kredit semata.

Konsep penerbitan buku oleh pemerintah dicoba untuk kembali sesuai dengan Undang-Undang Perbukuan 2017, dimana terbitan buku harus tersebar luas ke masyarakat. Perpustakaan nasional akhirnya memberikan kebijakan baru untuk membuat sub nomor untuk menghemat ISBN yang telah dijatah oleh ISBN internasional.

papun jenis tulisannya baik buku teks, buku umum, buku dikti, maupun buku luar, tulislah yang sesuai dengan kompetensi serta minat yang dimiliki agar tulisannya benar-benar berkualitas.  Buku dengan omzet terbesar adalah buku teks pelajaran utama karena pasarnya sangat besar, yaitu seluruh sekolah di Indonesia. Buku umum pasarnya paling kecil karena outlet utama adalah di toko buku, baik toko buku modern maupun tradisional.

Ini kesempatan bagi penulis untuk tetap semangat menulis karena pasar buku masih cukup menarik mengingat buku fisik masih menjadi andalan utama penerbit dalam mencari peruntunganya. Kirimkan usulan penerbitan buku, supaya ide Anda dapat ditangkap penerbit dan disebarluaskan ke pembaca.

 





Kamis, 30 Juni 2022

Pemasaran Buku


Seperti biasa, kegiatan BM malam ini diawali dengan pembukaan, paparan materi, tanya jawab, dan penutup. Pertemuan ke-19 akan ditemani Pak Sigit Purwo Nugroho selaku moderator dan narasumber yang akan membersamai peserta BM gelombang 25 dan 26 malam ini adalah Bapak Agus Subardana.



Bagaimana Strategi Pemasaran Buku?

1. Strategi Pemasaran Buku Serangan Udara (online)
    
    Pentingnya Transformasi Digital
            Strategi utama yang digunakan adalah Digital Marketing dalam melakukan transformasi mendasar pada bisnis penerbitan buku.
Untuk penjualan buku melalui online harus proaktif dan mempromosikan secara kontinu, agar dapat:
a. Menyebarkan informasi produk secara masif kepada target pasar potensial.
b. Mendapatkan konsumen baru dan mempertahankan konsumen yang sudah ada, sehingga kesetiaan konsumen tetap terjaga.
c.   Menjaga kestabilan penjualan saat kondisi pasar sedang lesu.
d.   Menaikkan penjualan dan profit
e.   Membandingkan dan keunggulan produk dibandingkan dengan pesaing.
f.    Membentuk citra produk dibenak mata konsumen sesuai dengan yang diinginkan.
g.   Mengubah tingkah laku yang semula kurang berminat menjadikan tertarik dan berminat.
     

       Pemasaran Buku Melalui Komunitas
    Gunakan jaringan komunitas untuk sarana promosi dan penjualan buku. Penjualan buku melalui komunitas lebih efektif dan efisien, sehingga tingkat keberhasilannya lebih tinggi. Kuncinya harus komunikasi dan interaksi secara aktif serta dapat menjaga integritas pribadi kita.

Penerbit Andi juga terus mengadakan aktifitas pemasaran melalui komunitas dengan mengadakan webinar lewat link zoom, live youtube TV Andi, dengan tema-tema yang menarik.

2. Strategi Pemasaran Buku Serangan Darat (offline)
    Penerbit Andi melakukan pemetaan wilayah dengan membuka cabang tiap kota besar yang potensi pasarnya sangat baik. Penerbit Andi mempunyai 90 cabang dari Aceh sampai Papua, dengan menempatkan tenaga pemasaran di tiap kantor cabang tersebut.

Stategi pemasaran buku serangan darat dikelompokkan berdasarkan target pasar yang dituju:

A. Toko Buku

        Penerbit buku yang mampu memproduksi sendiri dan mempunyai mesin percetakan sendiri, sebagian besar sebagai pemasok di toko buku di Indonesia. Untuk bisa masuk dan sebagai pemasok rutin di tokoh buku, maka perlu pemetaan jenis tokoh buku. Toko buku dipetakan menjadi tiga jenis, yaitu toko buku modern, toko buku semi modern, dan toko buku tradisional.

            Strategi promosi di toko buku modern, antara lain:
* Menguasai display buku supaya tampilan buku dapat terlihat dan menonjol.
* Mengadakan promosi di internal toko dengan memasang produk di Neon Box, X banner
* Mengadakan bedah buku, talkshow dan potongan harga pada buku tertentu atau periode tertentu
* Mengadakan even tematik sesuai moment bulan berjalan.

B. Directselling

            Pemasaran buku melalui directselling dipetakan berdasarkan kategori buku yang diterbitkan.                  Jenis buku penjualan lewat directselling dibagi beberapa target pasar, ayitu:
    * Buku pendidikan (jenjang TK, SD, SMP, SMA/SMK)
    * Buku teks perguruan tinggi untuk semua mata kuliah
    * Buku referensi untuk jenjang TK, SD, SMP, SMA/SMK, perguruan tinggi, dan umum)

Melalui pemetaan tersebut Penerbit Andi sebagai industri penerbitan buku melakukan terobosan pemasaran dengan menempatkan tenaga penjual (sales) di setiap wilayah kota dan kabupaten. 

Menulis adalah perjuangan, di mana penulis merupakan pahlawan yang akan dikenang  selama-lamanya, lembaran karya adalah medan pertempuran dan pena adalah senjatanya. untuk itu marilah terus berkarya melalui tulisan yang dapat memberikan kebaikan kepada masyarakat. Salam literasi.






Selasa, 28 Juni 2022

Menerbitkan Buku Semakin Mudah di Penerbit Indie

 


Alhamdulillah malam ini sudah masuk pertemuan ke-18 yang dipandu oleh Bu Mutmainah sebagai moderator. Salam dan sapaan disampaikan oleh moderator kepada peserta BM, narasumber, dan tim solid Omjay.

Bu Mutmainah akan didampingi Bapak Raimundus Brian Prasetyawan, S.Pd. sebagai narasumber. Beliau lahir di Jakarta, 30 Juni 1992. Berdomisili di Bekasi dan berprofesi sebagai tenaga pendidik di salah satu SD di Jakarta. Memulai aktivitas menulis di blog pada tahun 2009. Profilnya pernah dimuat dalam buku berjudul "Majors For The Future." Tulisannya banyak dimuat di media cetak, terutama di Tabloid Bola. Profil beliau dapat dilihat di link berikut https://www.praszetyawan.com/p/profil.html.

Sesuai dengan tema pembahasan yaitu "Menerbitkan Buku Semakin Mudah di Penerbit Indie." Menerbitkan buku di zaman sekarang semakin mudah  karena sudah banyak penerbit independen atau lebih akrab di kenal dengan Penerbit Indie. Sebelum Penerbit Indie bermunculan, kita hanya mengenal penerbit mayor, seperti gramedia, grasindo, erlangga, andi, dll. Dengan hadirnya penerbit Indie, sangat membantu para penulis untuk mewujudkan bukunya, khususnya penulis pemula.

Ayo kita mengenal Penerbit Indie

1. Tidak ada seleksi naskah, semua naskah diterima.
2. Proses terbit cepat, 1 - 3 bulan.
3. Biaya penerbitan bervariasi, tergantung ketentuan dan fasilitas penerbit.
4. Biaya cetak dan dan ongkos kirim ditanggung penulis
5. Penulis menentukan sendiri harga bukunya.
6. Tidak memasarkan ke tokoh buku.
7. Penulis yang harus memasarkan sendiri bukunya, jika ingin bukunya terbit.

Tips yang perlu diperhatikan dalam menentukan Penerbit Indie

1. biaya penerbitan
2. fasilitas penerbitan
3. batas maksimal jumlah halaman
4. ketentuan dan biaya cetak ulang
5. Apakah dapat master PDF?
6. jumlah buku yang didapat penulis.

Rekomendasi penerbit yang dapat membantu atau narasumber memiliki rekanan Penerbit Indie, yaitu Penerbit Depok dan Penerbit Malang. Penerbit yang enak dan kinerjanya tidak diragukan lagi. Hasil cetakannya bagus dan dapat dibuktikan sendiri dan tidak ada hambatan karena beliau yang akan mengawal dan menjamin hingga buku diterbitkan.

Penulis menginginkan dan memiliki kondisi yang berbeda-beda terhadap buku yang akan diterbitkan. Penerbit Depok cocok untuk penulis yang hanya menerbitkan buku saja, tidak ada rencana untuk cetak ulang atau sekedar untuk pribadi saja. Penerbit Malang cocok untuk penulis yang berencana menjual bukunya karena jumlah buku yang dicetak lebih banyak. Jika stok buku habis, jika cetak ulang lagi dengan biaya cetak per buku lebih murah dibandingkan dengan Penerbit Depok.

Terkait ketentuan menerbitkan buku di dua penerbit rekanan tersebut, dapat dilihat di link berikut, Penerbit Depok https://www.prasetyawan.com/2021/10/murah-banget-menerbitkan-buku-ber-isbn.html. Penerbit Malang https://www.praszetyawan.com/2021/09/ini-cara-menerbitkan-buku-dengan-mudah.html. Penerbit Depok dan Penerbit Malang tetap bisa mengeluarkan nomor ISBN walaupun Perpusnas memiliki kebijakan pembatasan penerbitan nomor ISBN.



Contoh buku-buku karya peserta belajar menulis PGRI yang sudah terbit lewat Penerbit Depok




Jangan takut untuk menerbitkan buku, jika kita punya naskah dan jangan hanya disimpan di folder dalam laptop saja, siapa tahu orang lain menyukai atau bahkan membutuhkan tulisan kita. Salam literasi.



Koneksi Antarmateri- Modul 3.1

Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin Oleh                : Farida Haryati PGP                 : Angkata...